Rabu, 15 Februari 2012

INCOTERMS on Trading Business......Part 1




INCOTERM ; merupakan istilah standar perdagangan internasional (a set of three letter)yang paling umum digunakan dalam kontrak internasional penjualan barang. Pertama kali diterbitkan pada tahun 1936, INCOTERMS memberikan definisi yang diterima di dunia internasional dan aturan penafsiran untuk istilah komersial yang paling umum.

APA FUNGSI INCOTERM ??? INCOTERM menginformasikan kontrak penjualan dengan mendefinisikan masing-masing kewajiban, biaya dan risiko yang terlibat dalam pengiriman barang dari penjual kepada pembeli.

APA YANG TIDAK DAPAT DILAKUKAN INCOTERM ???

  • INCOTERM sendiri tidak merupakan kontrak
  • INCOTERM tidak dapat menggantikan hukum yang mengatur kontrak
  • INCOTERM tidak menentukan di mana judul transfer ; atau ,
  • INCOTERM tidak menentukan alamat harga dibayarkan, mata uang atau istilah kredit.

Item tersebut ditetapkan oleh syarat-syarat yang ditentukan (buyer & seller) dalam kontrak penjualan dan hukum yang berlaku.




* Informasi berikut (CHART OF RESPONSIBILITY ON INCOTERMS 2011) mengacu pada incoterms 2000 dan sekarang diganti dengan informasi yang berbeda dalam Incoterms 2010. Untuk istilah yang diberikan,"YES" menunjukkan bahwa penjual memiliki tanggung jawab untuk memberikan pelayanan yang termasuk dalam harga. "NO" menunjukkan itu adalah tanggung jawab pembeli. Jika asuransi tidak termasuk dalam istilah (misalnya, CFR) maka asuransi untuk transportasi adalah tanggung jawab pembeli atau penjual
tergantung pada siapa yang memiliki barang pada saat transportasi. Dalam hal persyaratan CFR, itu akan menjadi pembeli sementara dalam kasus CIF atau CIP, itu akan menjadi penjual.

To be continue for other descriptions,, sooooo see yaaaa on INCOTERMS on Trading Business......Part 2

Source : http://www.i-b-t.net/

Jumat, 17 Juni 2011

MINE PLAN Part 2 .... "

1. PERENCANAAN
Perencanaan (planning) adalah penentuan persyaratan teknik untuk mencapai
tujuan dan sasaran kegiatan yang sangat penting serta urutan teknis
pelaksanaannya. Oleh sebab itu perencanaan merupakan gagasan pada saat
awal kegiatan untuk menetapkan apa dan mengapa harus dikerjakan, oleh siapa,
kapan, di mana dan bagaimana melaksanakannya. Perencanaan tambang
(mine planning) dapat mencakup kegiatan-kegiatan prospeksi, eksplorasi, studi
kelayakan (feasibility study) yang dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan (AMDAL), persiapan penambangan dan konstruksi prasarana
(infrastructure) serta sarana (facilities) penambangan, kesehatan dan
keselamatan kerja (K3), pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. Bila
industri pertambangan yang bersangkutan melakukan kegiatan terpadu, maka
akan mencakup pula pengolahan (mineral dressing / mineral benefication),
peleburan (smelting), pemurnian (refining) dan pemasaran (marketing); lihat
Gambar 1).





Ada berbagai macam perencanaan antara lain :
Perencanaan jangka panjang, yaitu suatu perencanaan kegiatan yang
jangka waktunya lebih dari 5 tahun secara berkesinambungan.
Perencanaan jangka menengah, yaitu suatu perencanaan kerja untuk jangka
waktu antara 1 – 5 tahun (lihat gambar 2, 3 dan 4).
Perencanaan jangka pendek, yaitu suatu perencanaan aktivitas untuk jangka
waktu kurang dari setahun demi kelancaran perencanaan jangka menengah dan
panjang.
Perencanaan penyangga atau alternatif ; bagaimanapun baiknya suatu
perencanaan telah disusun, kadang-kadang karena kemudian terjadi hal-hal tak
terduga atau ada perubahan data dan informasi atau timbul hambatan (kendala)
yang sulit untuk diatasi, sehingga dapat menyebabkan kegagalan, maka harus
diadakan perubahan dalam perencanaannya.

2. PERANCANGAN

Rancangan (design) adalah penentuan persyaratan, spesifikasi dan kriteria
teknik yang rinci dan pasti untuk mencapai tujuan dan sasaran kegiatan serta
urutan teknis pelaksanaannya. Di Industri pertambangan juga dikenal rancangan
tambang (mine design) yang mencakup pula kegiatan-kegiatan seperti yang ada
pada perencanaan tambang, tetapi semua data dan informasinya sudah rinci
(lihat Gambar 1 dan 5)
Pada umumnya ada dua tingkat rancangan, yaitu :
Rancangan konsep (conceptual design), yaitu suatu rancangan awal atau
titik tolak rancangan yang dibuat atas dasar analisis dan perhitungan secara
garis besar dan baru dipandang dari beberapa segi yang terpenting, kemudian
akan dikembangkan agar sesuai dengan keadaan (condition) nyata di lapangan.
Rancangan rekayasa atau rekacipta (engineering design), adalah suatu rancangan lanjutan dari rancangan konsep yang disusun dengan rinci dan
lengkap berdasarkan data dan informasi hasil penelitian laboratoria serta literatur
dilengkapi dengan hasil-hasil pemeriksaan keadaan lapangan.
Rancangan konsep pada umumnya digunakan untuk perhitungan teknis dan
penentuan urutan kegiatan sampai tahap studi kelayakan (feasibility study),
sedangkan rancangan rekayasa (rekacipta) dipakai sebagai dasar acuan atau
pegangan dari pelaksanaan kegiatan sebenarnya di lapangan yang meliputi
rancangan batas akhir tambang, tahapan penambangan (mining stages/ mining
phases pushback), penjadwalan produksi dan material buangan (waste).
Rancangan rekayasa tersebut biasanya juga diperjelas menjadi rancangan
bulanan, mingguan dan harian.

Pada kegiatan penambangan (mining operation) selalu akan diperoleh
produksi berupa hasil panggilan endapan bahan galian dan material penutup
(overburden and interburden) yang harus dikelola dengan baik. Oleh sebab itu
baik untuk produksi tambang maupun material penutup harus dibuatkan suatu
rancangan pengelolaan agar di dalam pelaksanaannya nanti para petugas di lapangan dapat menjalankan tugasnya dengan tertib dan tidak ada keragu-raguan.

3. TERMINOLOGI
Berbagai istilah penting yang erat hubungannya dengan perencanaan dan
perancangan tambang perlu dipahami dengan baik.
* ISTILAH DASAR
Tambang (mine), berarti tempat lokasi bahan galian digali
Penambangan (mining/exploitation) adalah kegiatan / proses
Pertambangan/industri pertambangan (mining industry)m e n un juk k a n
jangkauan /ruang lingkup kerja.
Kapasitas (capacity) satuannya m3 (cu yd) atau ton
Produksi (production), satuannya m3/ jam (Cu yd /hs) atau ton/jam
Produktivitas (productivity), satuannya m3/jam/orang atau ton/jam/orang (ton
per man hour)

* CADANGAN (RESERVE)
Cadangan tereka/terduga/terkira (inferred / prossible raserve), perhitungannya hanya didasarkan pada data dan informasi geologi serta percontoh dari singkapan yang ada ; kesalahan perhitungan berkisar 40% - 60%.
Cadangan terunjuk/terindikasi (indicated / probable reserve), perhitungannya kecuali didasarkan pada data dan informasi yang lebih rinci juga dilengkapi dengan data pengeboran ini geologi yang jaraknya kurang rapat (>50 m untuk endapan bijih; > 250 m untuk endapan batubara); kesalahannya 20% - 40%.
Cadangan terukur/teruji (measured / proven reserve), perhitungannya diperoleh berdasarkan data pemercontohan untuk sistematis dari pengeboran inti yang rapat (25 – 50 m untuk endapan bijih; 100 – 250 m untuk endapan batubara); kesalahannya maksimum 20%.
Cadangan tertambang (mineable reserve), yaitu cadangan terukur yang dapat ditambang secara ekonomis. Satuannya m3 atau ton.
Cadangan terperoleh (recoverable reserve) adalah cadangan tertambang sesudah dikurangi kehilangan (losses) atau produksi tambang yang dapat dijual; satuannya m3 atau ton.

* KADAR BATAS (CUT OFF GRADE)
Ada 2 (dua) pengertian tentang kadar batas ini, yaitu :
a) Kadar (kekayaan) endapan bahan galian terendah yang masih memberikan
keuntungan apabila ditambang.
b) Kadar rata-rata terendah dari endapan bahan galian yang masih
memberikan keuntungan apabila ditambang.

* KADAR BATAS PULANG POKOK (BREAK EVEN CUT OFF GRADE = BECOG)
Dalam teori ekonomi analisis pulang pokok (impas) diartikan sebagai perolehan
pendapatan yang tepat sama dengan biaya-biaya yang dikeluarkan atau tidak untung dan tidak rugi. Dalam industri pertambangan dikenal pengertian kadar batas pulang pokok (break even cut off grade = BECOG) yang dapat dinyatakan dalam rumus :



di mana :
Mine = seluruh biaya penambangan, Rp.
Mill = seluruh biaya pengolahan atau pencucian Rp.
G&A = (General & Administrative costs) biaya umum dan administrasi atau biaya tak langsung (overhead)
SRF = seluruh biaya peleburan (smelting), pemurnian (refining) dan Pengangkutan (freight), Rp.
Mill Rec. = perolehan pengolahan (mill recovery), %
Smelt Rec. = Perolehan peleburan dan pemurnian (smelting & refining recovery), %
Faktor = faktor konversi ; bila dari 5 ke lb dipakai angka 20; bila dari % ke kg
dipakai angka 22,046. Sedangkan untuk logam-logam mulia tidak diperlukan
angka konversi ; karena satuannya sudah troy oz/ton atau gr/ton

* KADAR BATAS INTERNAL (INTERNAL CUT OFF GRADE = ICOG)
Jika harus melakukan pemilihan untuk menjual produksi tambang ke pabrik pengolahan dan peleburan atau mengangkut hasil galian tersebut ke tempat penimbunan, maka dikenal kadar batas internal (internal cut off grade = ICOG). Cara menghitungnya memakai rumus BECOG, tetapi tanpa memasukan biaya penambangan, artinya biaya penambangannya dianggap nol.

* KADAR BATAS PROSES (PROCESS CUT OFF GRADE = PCOG)
Bila tingkat produksi instalasi pengolahan bahan galian sudah ditentukan,
misalnya seperti pada instalasi (proses) pencucian atau flotasi, maka dalam
perhitungan kadar batas harus memasukan biaya umum dan administrasi (G & A
= overhead). Tetapi bila tingkat produksi instalasi pengolahan tidak menentu,
seperti pada proses pelindian (leaching process), maka biaya umum dan administrasi boleh tidak dimasukkan untuk menghitung kadar batas penambangannya. Kadar batas ini disebut kadar batas proses atau pengolahan(process cut grade = PCOG) yang diartikan sebagai kadar terendah bahan galian yang masih dapat menutupi biaya pengolahan. Jika perusahaan pertambangan memiliki instalasi pengolahan dengan kapasitas tertentu, sedangkan produksi tambang kadarnya sering berada di bawah kadar yang disyaratkan oleh instansi pengolahan, maka bahan galian dengan kadar batas proses itulah yang ditambang untuk dibawa ke instalasi pengolahan. Namun demikian keadaan seperti tersebut di atas sedapat mungkin dihindari agar perusahaan tambang yang bersangkutan tidak mengalami kerugian.

* KADAR SETARA (EQUIVALENT GRADE)
Kadar setara hanya dikenal pada endapan-endapan bijih yang mengandung
lebih dari satu mineral berharga. Oleh sebab itu pada tambang batubara tidak
dikenal kadar serta, karena bersama endapan batubara jarang sekali, bahkan tidak pernah ditemukan mineral berharga. Kadar setara adalah kadar yang menghasilkan gabungan nilai “net smelter return” (NSR) dari semua mineral berharga yang terkandung di dalam endapan bijih (ore). Sedangkan NSR adalah nilai 1,0 ton bijih setelah dikurangi dengan jumlah biaya peleburan, pemurnian dan pengangkutan (smelting, refining and freight costs = SRF).

* FAKTOR PENGEMBANGAN (SWELL FACTOR)

Material di alam( i n s i t u ) ditemukan dalam keadaan padat dan terkonsolidasi
dengan baik, tetapi bila digali atau diberai akan terjadi pengembangan volume.
Perbandingan antara volume alami (insitu) dengan volume berai (loose volume) dikenal dengan istilah faktor pengembangan / faktor pemuaian / faktor pemekaran (swell factor). Dalam Bentuk rumus dapat dinyatakan sebagai berikut :

Swell Factor = (Vol Insitu / Vol Loose)x 100%

Percent Swell = ((Vol Loose - Vol Insitu)/Vol Insitu)x 100%


* NISBAH PENGUPASAN (STRIPPING RATIO)

Nisbah pengupasan adalah perbandingan antara jumlah material penutup (overburden) yang harus dikupas terhadap jumlah bahan galian yang akan dapat ditambang. Dalam bentuk rumus :
untuk tambang bahan galian:
STRIPPING RATIO = Bahan Galian, ton / Material Penutup, ton

Untuk tambang batubara :
STRIPPING RATIO = Batubara, ton / Overburden, m3

TUJUAN PERENCANAAN
Agar dapat :
Melaksanakan penambangan yang secara teknis sesuai dengan metode kerja
yang sistematis, ramah lingkungan dan mengikuti kaidah-kaidah kesehatan dan
keselamatan kerja. Mencapai sasaran produksi yang telah ditetapkan dengan
efisiensi kerja yang tinggi dan ongkos produksi yang semurah mungkin.

RUANG LINGKUP PERENCANAAN
Agar suatu persamaan tambang dapat disebut lengkap, maka harus mencakup :
* PENENTUAN BATAS AKHIR TAMBANG (ULTIMATE PIT LIMIST)
Untuk menentukan batas akhir tambang harus mempertimbangkan bentuk,
ukuran, posisi cadangan terukur bahan galian, BESR yang sesuai dan
kemantapan lereng – batas akhir tambang ini harus tergambar pada peta.
* PENTAHAPAN KEMAJUAN PENAMBANGAN (PUSH BACK).
Membuat bentuk-bentuk penambangan (mineable geometries) agar bisa
menambang habis cadangan terukur mulai dari titik awal penambangan hingga
ke batas akhir tambang. Pada perencanaan urutan tahap-tahap kemajuan
penambangan ini batas batas akhir tambang dibagi menjadi unit-unit
perencanaan yang lebih kecil agar lebih mudah di kelola hal ini akan
menyederhanakan masalah perencanaan tambang tiga dimensi yang biasanya
sangat komplek
* PENJADWALAN PRODUKSI
Menambang endapan bahan galian dan lapisan penutupnya (overburden/
interburden/ waste) jenjang demi jenjang harus mengikuti urutan tahap-tahap
kemajuan tambang yang sudah direncanakan dengan memakai tabulasi volume
(tonase) dan kadar (mutu) nya pengaruh dari berbagai evaluasi untuk
menentukan jadwal sasaran produksi pada kadar batas yang terbaik.
* PEMILIHAN PERALATAN
Berdasarkan rencana produksi penambangan dan penimbunan lapisan penutup
per tahun dapat ditentukan tipe, ukuran dan jumlah peralatan bor, armada
pengangkutan, alat muat dan peralatan penunjangnya (buldoser, alat garu, motor
grader, bahan peledak, dll.) untuk tiap tahun.
* PEMBUATAN PETA KEMAJUAN TAMBANG
Peta rencana kemajuan penambangan dibuat untuk setiap tahun yang
menunjukan dari bagian-bagian mana endapan bahan galian dan lapisan
penutup ditambang pada tahun yang bersangkutan. Pada peta-peta tersebut
juga akan tergambar rencana jalan angkut, letak medan kerja (front), tempat
penyimpanan lapisan penutup, kolam pengendap/ settling/ treatment ponds),
bengkel, kantor, dll, sehingga diperoleh gambaran lengkap dari seluruh kegiatan
penambangan.
* PERHITUNGAN BIAYA PRODUKSI
Dengan menggunakan tingkat produksi tahunan dan bentuk organisasi yang
dipilih, maka dapat dihitung jumlah tenaga kerja dan gilir kerja (shift) yang
diperlukan untuk operasi, perawatan dan pengawasan kemudian biaya produksi,
modal kerja dan biaya penggantian peralatan dapat dihitung.

SeLamat menikmati bacaan..... Semoga bermanfaat....

Senin, 27 Desember 2010

MINE PLAN part 1...

APAkah "MINE PLAN" itu???

Yuppp,,,simak disini...sekilas info mengenai "MINE PLAN"
Pada umumnya perencanaan tambang adalah penentuan persyaratan teknik pencapaian sasaran kegiatan serta urutan teknik dalam berbagai macam kegiatan yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan dan sasaran kegiatan penambangan dalam mencapai target produksi.

Tujuan dari perencanaan tambang adalah membuat suatu rencana produksi tambang untuk deposit batubara yang akan :
Menghasilkan tonase batubara pada tingkat produksi yang telah ditentukan dengan biaya yang serendah mungkin dan menghasilkan aliran kas (cash flow) yang akan memaksimalkan beberapa kriteria ekonomik seperti Rate of Return (ROR) maupun Net Present Value (NPV)

Dua Aspek penting dalam pekerjaan perencanaan tambang adalah perancangan pit atau penentuan batas akhir penambangan serta pentahapan dan penjadwalan produksi hingga ke perencanaan tahunan, triwulan dan bulanan.

Agar perencanaan tambang dapat dilakukan dengan lebih mudah, maka dibagi menjadi tugas-tugas pengerjaan sebagai berikut :
1. Pendesain-an pit berdasarkan Stripping Ratio (SR)
2. Penentuan batas pit (pit limit)
3. Penjadwalan produksi
4. Pemilihan alat
5. Perhitungan ongkos-ongkos operasi dan kapital
6. Perencanaan rehabilitasi

Data-data yang diperlukan dalam perencanaan tambang untuk data masukan adalah :
Geologi endapan seperti; dimensi endapan yaitu strike, dip, ketebalan, luas daerah, posisi daerah dan kedalaman overburden (OB).
Kualitas batubara dengan modelling melalui korelasi batubara.
Topografi; permukaan, ketinggian air laut untuk membuka suatu lahan tambang dalam suatu wilayah.
Kondisi alam seperti sungai, danau, rawa.
Faktor atau hal-hal lain; lahan atau area yang sudah dibebaskan.


Bersambung......... MINE PLAN part 2...

Kamis, 21 Oktober 2010

SWOT n SWORD Analysis

"OH nooooooo...how stupid am i...how i don't know about SWOT n SWORD Analysis!!!"

Before we pull out the SWORD, let's review the SWOT.

The SWOT analysis is an industry standard tool used to describe several options, and detail the (S)trengths (W)eaknesses (O)pportunities and (T)hreats associated with each option. The SWOT analysis is the foundation of my SWORD analysis.

Why not just use SWOT? It limits the decision making to a single option. Too often, I found myself stuck using this analysis because people could not come to agreement over a single option. The beauty of my SWORD analysis is it brings people out of the box, and allows for flexibility, and, more importantly, creativity.

We covered the SWOT acronym so what does SWORD mean?
* Strengths - List the strengths (pros) for each option.
* Weaknesses - List the weaknesses (cons) for each option
* Opportunities - List any opportunities that the option creates.
This ones a little challenging and takes practice.
* Risks - How does the option affect the quadruple constraint for the project?
Scope, Schedule, Cost, and Quality
* Decisions - This is the key difference in the SWORD analysis.
Instead of limiting decisions to a single option, this element allows the CCB to
pick and choose different elements from each option and ultimately drives to
consensus quickly.

from >> http://EzineArticles.com/?expert=Stephen_Yuhas

Rabu, 20 Oktober 2010

Batubara : Sifat

Batubara merupakan suatu campuran padatan yang heterogen dan terdapat dialam dalam tingkat (grade) yang berbeda mulai dari lignit, subbitumine, antrasit. Berdasarkan atas kandungan zat terbang (volatile matter) dan besarnya kalori panas yang dihasilkan batubara dibagi menjadi 9 kelas utama.

Dalam perdagangan dikenal istilah Hard Coal dan Brown Coal. Hard Coal adalah jenis batubara yang menghasilkan gross kalori lebih dari 5.700 kcal/kg dan dibagi :
a. Kandungaan zat terbang (volatile matter) hingga 33 %, termasuk klas 1-5.
b. Kandungan zat terbang (volatile matter) lebih besar 33 %, termasuk klas 6-9.

Hard coal merupakan jenis batubara dengan hasil kalori yang lebih tinggi dibandingkan dengan bitumine / subbitumine dan lignit (brown coal).

Sifat batubara jenis Antrasit :
1. Warna hitam sangat mengkilat dan kompak
2. Nilai kalor sangat tinggi, kandungan karbon sangat tinggi.
3. Kandungan air sangat sedikit.
4. Kandungan abu sangat sedikit.
5. Kandungan sulfur sangat sedikit.

Sifat batubara jenis bitumine / subbitumine :
1. Warna hitam mengkilat, kurang kompak.
2. Nilai kalor tinggi, kandungan karbon relatif tinggi.
3. Kandungan air sedikit.
4. Kandungan abu sedikit.
5. Kandungan sulfur sedikit.

Sifat batubara jenis lignit (brown coal) :
1. Warna hitam, sangat rapuh.
2. Nilai kalor rendah, kandungan karbon sedikit.
3. Kandungan air tinggi.
4. Kandungan abu banyak.
5. Kandungan sulfur banyak.

Batubara merupakan bahan bakar padat yang mengandung abu, oleh karena itu pemanfaatan batubara akan melibatkan biaya tinggi untuk alat yang diperlukan bagi penanganan (coal handling) dan pembakaran batubara. Itu semua bertujuan untuk mengeliminir debu dan abu.

Penanganan batubara memerlukan pengamanan, karena ada beberapa masalah dalam penanganan batubara antara lain :
a. Batubara dapat terbakar sendiri
b. Batubara dapat menimbulkan ledakan
c. Batubara dapat menimbulkan pencemaran, kalau ada angin kencang debunya beterbangan kemana-mana

TERBAKAR SENDIRI
Batubara dapat terbakar sendiri setelah mengalami proses yang bertahap yaitu :

1. Tahap pertama : mula-mula batubara akan menyerap oksigen dari udara secara perlahan-lahan dan kemudian temperature batubara akan naik

2. Tahap kedua : sebagai akibat temperature naik kecepatan batubara menyerap oksigen dari udara bertambah dan temperature kemudian akan mencapai 100-1400C

3. Tahap ketiga : setelah mencapai temperature 1400C, uap dan CO2 akan terbentuk

4. Tahap keempat : sampai temperature 2300C, isolasi CO2 akan berlanjut

5. Tahap kelima : bila temperature telah berada diatas 3500C, ini berarti batubara telah mencapai titik sulutnya dan akan cepat terbakar

SEBAB-SEBAB TERBAKAR SENDIRI


Batubara merupakan bahan bakar organic dan apabila bersinggungan langsung dengan udara dalam keadaan temperature tinggi (misalnya musim kemarau yang berkepanjangan) akan terbakar sendiri.
Keadaan ini akan dipercepat oleh :

a. Reaksi eksothermal (uap dan oksigen diudara), hal ini yang paling sering terjadi
b. Bacteria
c. Aksi katalis dari benda-benda anorganik

Sedangkan kemungkinan terjadinya terbakar sendiri terutama antara lain :

a. Karbonisasi yang rendah (low carbonization)
b. Kadar belerangnya tinggi (>2%). Ambang batas kadar belerang sebaiknya 1,2% aja

PENANGGULANGAN BATUBARA YANG TERBAKAR SENDIRI


Jika batubara ditimbun ditempat penimbunan yang tertutup (indoor storage) maka harus dibuat peraturan agar gudang penyimpanan tersebut bersih dari endapan-endapan debu batubara, terutama yang ditemukan dipermukaan alat-alat. Dengan demikian maka perlu ada perawatan yang terus menerus dan konstan. Apabila tempat penimbunan ini terbuka (outdoor storage) maka sebaiknya dipilihkan tempat yang rata dan tidak lembab, hal ini untuk menghindari penyusupan kotoran-kotoran (impurities). Untuk batubara yang berzat terbang tinggi perlu dipergunakan siraman air (sprinkler). Penyimpanan batubara yang terlalu lama juga membahayakan, paling lama sebaiknya 1 bulan.

TINGGI ONGGOKAN

Tingginya onggokan tumpukan batubara memang sulit untuk ditentukan sebab masing-masing tempat penimbunan memiliki kondisi sendiri-sendiri antara lain iklim, kelembaban, penyinaran.

PENGECEKAN DINI TERHADAP GEJALA TERBAKAR

a. Pengecekan Temperatur
Untuk mengetahui temperature maksimum dari onggokan batubara dapat ditentukan 1-2m dibawah permukaan dari tumpukan. Caranya : buat lubang vertical dibantu dengan pipa berperforasi. Kegunaan pipa agar lubang tidak tertimbun batubara lagi sedang kegunaan perforasi agar temperature didalam lubang sama dengan temperature dalam onggokan.

b. Batubara dapat menimbulkan ledakan
Ledakan debu batubara disebabkan oleh :
1. Ukuran partikel debu : <20 br="" mesh="" mm="">2. Terdapat hubungan antara zat terbang dan derajat peledakan

Volatile ratio = Volatile (%)/ [Volatile (%) + Fixed carbon (%)]

Apabila volatile ratio >0,12 maka kemungkinan terjadinya ledakan debu batubara selalu ada. Bila komponen abu dalam debu batubara >70-80% maka tidak perlu takut bahaya ledakan. Kondisi untuk meledak akan terjadi bila partikel-partikel halus cukup waktu mengembangnya (floating time). Juga adanya gas-gas pembakar dalam udara dapat membantu terjadinya peledakan.

c. Cara penanggulangan ledakan
1. Gunakan gas inert (gas N2). Gas ini cukup mahal harganya, selain itu juga cepat menguap sehingga selalu harus diperiksa valve pressurenya. Tempatkan tabung gas N2 ini didalam tempat penyimpanan batubara gerus (pulverized coal bin), juga dibagian filter (B/F)
2. Dilakukan pembersihan secara periodic untuk menghindari pembentukan endapan debu batubara
3. Menghilangkan kemungkinan sumber tercapainya titik sulut batubara (ignition point) didalam instalasi
4. Perhatikan, dicari dan temukan sumber kebakaran sedini mungkin
5. Dalam hal timbunan batubara ditutupi dengan plastic usahakan agar konsentrasi O2 kurang dari 12%. Pada timbunan terbuka, penggunaan siraman air dengan menggunakan sprinkler system yang otomatis akan sangat membantu dalam usaha mencegah kebakaran batubara.

Caranya : control operator panel (CPO) di pipa ditaruh didalam timbunan batubara kemudian distel pada temperature tertentu. Apabila temperature timbunan batubara meningkat dan melebihi temperature yang distel di COP, maka sprinkler otomatis akan bekerja sendiri menyirami timbunan batubara tersebut.

Perawatan debu batubara

Lembaran plastic penutup timbunan batubara adalah yang terbaik, diusahakan tidak menggunakan plastic berwarna gelap. Timbunan dipadatkan dengan bulldozer untuk mengurangi hadirnya oksigen didalam sela-sela batubara. Pada timbunan batubara terbuka permukaan timbunan sebaiknya disemprot dengan cairan yang mengeraskan permukaan. Cairan ini adalah produk tambahan dari pengilang minyak.

(sumber: Batubara & Gambut, Ir. Sukandarrumidi, MSc. Ph.D)

Minggu, 27 Juni 2010

isTiLah-isTiLah GeoHidroLogi

1. Evaporasi : Proses perubahan air menjadi gas atau uap air, sering ditemukan secara langsung pada permukaan air.
2. Transpirasi : Proses penyerapan air melalui makhluk hidup, terutama tumbuhan, ke atmosfer (udara).
3. Evapotranspirasi : Proses pelepasan air ke atmosfer sebagai akibat evaporasi dari tanah dan permukaaan air, dan transpirasi oleh tumbuhan.
4. Infiltrasi : Pergerakan air kearah bawah dari udara masuk ke dalam tanah.
5. Perkolasi : Pergerakan air melalui celah/sela sempit dari batuan atau tanah dibawah tekanan hidrostatik.
6. Permibilitas : Kemampuan batuan untuk menyebarkan zat cair atau gas, suatu bentuk relatif dimana medium penyerap dapat menyebarkan suatu cairan.
7. Porositas : Perbandingan kekosongan volum suatu batuan atau tanah terhadap volum total.
8. Air tanah dangkal : semua air yang berasal dari sumber air yang berada di dalam tanah yang memiliki kedalaman 10-25 m dari permukaan bumi.
9. Air tanah dalam : semua air yang berasal dari sumber air yang berada di dalam tanah yang memiliki kedalaman lebih dari 25 m dari permukaan bumi.
10. Meteoric water : kecepatan air yang mengalir pada suatu bidang.
11. Connate water : air yang diserap pada butiran mineral/karang cadangan dan tidak dihasilkan dari minyak/gas.
12. Runoff : Bagian dari lapisan endapan yang terlihat pada aliran atau permukaan air.
13. Presivitasi : Sebagian atau seluruh bentuk partikel air yang turun dari atmosfer; seperti hujan dan salju. Proses pembuatan bentuk padat dalam medium cair.
14. Aquifer : Formasi geologi, bagian dari pembentukan yang berisi material yang cukup basah yang dapat ditembus yang menghasilkan jumlah signifikan dari air menjadi mata air dan sumur.
15. Aquitar : lapisan yang dapat menyimpan air namun tidak dapat dialirkan serta dimanfaatkan secara cukup.
16. Aquiclude : formasi yang mengirimkan air untuk melengkapi penyaluran mata air/sumber air.
17. Laminar flow : jenis aliran pada garis aliran yang berbeda satu sama lain diatas panjang seluruhnya.
18. Turbulence flow : aliran yang dicirikan oleh adanya kekeruhan.
19. Debit : volume air yang mengalir dari suatu saluran melalui penampang lintang tertentu dalam satu satuan waktu.

Kamis, 27 Mei 2010

Mine Engineering



Mine Engineering is a branch of engineering chiefly concerned with the discovery, development and exploitation of ores and minerals. A Mine Engineer is a trained engineer with the knowledge of the science, economics and arts of mineral location, extraction, concentration and sale, the administrative and financial problems of importance in connection with the profitable conduct of mining. The one thing that really important for me to be a Mine Engineer is create mine from the map in the papper to be really mine in the earth, from unproductive land to be productive land with exploitation of ores and minerals from insides the earth.

Work environments vary by occupation are likely scientists and technicians work in office buildings and laboratories, while miners and mining engineers spend much of their time in the mine. Geologists who specialize in the exploration of natural resources may have to travel for extended periods to remote locations, in all types of climates, in order to locate ore, mineral or coal deposits.



Working conditions in mines can be unusual and sometimes dangerous. Workers in surface mines is subject to uneven outdoor work in all kinds of weather and climates. Some surface mines shut down in the rainy, because water from the rain covering the mine site makes work too difficult. Physical strength is necessary, because the work involves lifting, stooping and climbing. Surface mining, however, usually is less risky than underground mining. In underground mines are damp and dark, and some can be very hot. At times, several inches of water may cover tunnel floors. Although underground mines have electric lights, only the lights on miners caps illuminate many areas. Workers in mines with very low roofs may have to work on their hands and knees, backs, or stomachs, in confined spaces. In underground mining operations, dangers include the possibility of an explosion, exposure to harmful gases, or electric shock.

Mining engineers usually are employed at the location of natural deposits, often near small communities and sometimes outside the Indonesia. Those in research and development, management, consulting, or sales, however, often are located in metropolitan areas. There is no mining without human resources. People are ultimately what mining is all about. People to plan and run the mines. People to buy, enjoy and benefit from the mine’s products. And people affected, for better or worse, by mines.

Coal industry was previously taken as the second energy resource after the oil. Coal mining development as the alternative energy resource. Undeniable that mines besides give many benefit for human, its also can generate environmental impact. To reduce the environmental impact, the Mine Engineer must have to with vision of environment, so that can create friendly mine of environment and preserve the environment.

In reality, mining and agriculture are two basic industries which play a part of the important to development of modern civilization. So that among mining and agriculture have to be well-balanced or equiping each other.

Not close possibility, the trend of future mining methods is not only drilling and blasting techniques, as one would suppose strangely enough it is a reversional trend to spalling and pulverizing rock using extremes of temperature change and pressure, similar to primitive mining methods in principle, with revolving cutter heads advance by hydraulic jacks under extraordinary pressures. They will be capable of continuous mining under remote control and will advance through the hardest rock formations rapidly.

teman2 miner'05.....













KEBERSAMAAN ITU INDAH.....

Senin, 22 Maret 2010

gaK takut GagaL !!!!!

Kegagalan merupakan kesuksesan yang tertunda....mmmmm kata-kata ini sering banget didengerin...bahkan merupakan motto hidup kebanyakan orang...yaaaa sebelum sukses,terlebih dahulu kita mlewati rangkaian kegagalan.

Grafik hidup kita gak mesti selalu naik, ya dalam hidup kita selalu ada saat-saat ups n downs, hal yang lumrah terjadi apabila kita merasa takut dan cemas akan konsekuensi yang akan diterima apabila tujuan yang ingin dicapai tidak terwujud. Misalnya, takut dapat teguran, mengecewakan orang lain atau takut mendapat predikat buruk.... Nah...justru kecemasan itu memicu kegagalan. Kegagalan yang seharusnya dihindari ehhhh malah jadi boomerang, karena kita terus-menerus memikirkan, mencemaskannya dan menghabiskan waktu dengan penuh ketakutan...yang terjadi kita akan mengalami kesulitan untuk dapat berfikir jernih dan malah melupakan langkah-langkah yang seharusnya dipikirkan untuk menyelesaikan tugas tersebut....

soooooooo.....live must go on...ubah rasa takut menjadi kekuatan.
1. bersikaplah realistis daripada harus selalu tampil sempurna
2. jangan tergantung pujian...kalo ketinggian bisa nimbulin sifat sombong.. ^^,
3. buat daftar resiko agar bisa merancang rencana antisipasi
4. pengalaman buruk anggap sebagai latihan...
5. jangan takut gagal
6. selalu berani mencoba...
7. lakukan dengan hati yang gembira bersemangat...

[*.*]

Kamis, 18 Maret 2010

KonVersi saTuan.... SEkiLas inFo

KONVERSI SATUAN :
Mass : 1 Ton = 1000 Kg
1 Ton = 1987 lb ≈ 2000 lb
1 Kg = 2.20462 lb (pound)
1 cuyd = 0.967 ton
Distance : 1 yard = 0.91 m
1 km = 0.62 mile
Area : 1 km2 = 100 ha
1 ft = 12 inch
1 cuyd = 27 cuft
Energy : 1 BTU = 251.9958 calorie
1 BTU = 1055.056 joule
Degree : 1 derajat = 60 menit
1 menit = 60 detik
1 derajat = 3600 detik
125,2625 derajat = 125 + 0,2625
0,2625 derajat = 0,2625 x 60 = 15,75 menit
15,75 menit = 15 + 0,75
0,75 menit = 0,75 x 60 = 45 detik
125,2625 derajat = 125° 14’ 45”
Misal :
125° 14’ 45” + 24” = 125° 14’ 69” = 125° 15’ 09”
125° 14’ 45” - 53” = 125° 13’ 105” - 53” = 125° 13’ 52”
Pressure : 76 cmHg = 29.92 inHg
1 bar = 14.5 psi
Volume : 1 cuyd = 0.765 m3
1 barel = 115.63 liter
1 galon = 4.55 liter
1 galon = 0.02381 barel
1 m3 = 1000 liter

Jumat, 01 Januari 2010

Taon Baroe 2010



this is d'UNforgetable moMent with d'Legend....
really unforgetable moment...xixixixi
bareng The Banery......



history nya.....cuman n demi ngeliat the banery dateng ke Samarinda for d'1sT time
from 06:30 pm until 01:00 am @ swiss BelHotel Borneo

Selasa, 29 Desember 2009

SamPLing, Accuracy, Precision, Bias...BuAt BatUbaRA

Dalam industri batubara banyak sekali ditemukan istilah-istilah atau nama –nama yang menyangkut batubara. Istilah-istilah tersebut biasa muncul dalam kegiatan eksplorasi, penambangan, handling, loading, transhipment, tender jual beli batubara dan lain sebagainya. Salah satu istilah atau nama diantaranya adalah parameter kualitas batubara dan basisnya. Sebenarnya banyak sekali parameter kualitas yang ditentukan dari batubara tersebut dan juga istilahnya. Diantara istilah tersebut ada yang group dan ada yang individual. Parameter group contohnya adalah ; Proximate analysis yang di dalamnya terdiri dari parameter : Moisture, Ash, Volatile Matter, dan Fixed Carbon. Kemudian Ultimate analysis yang terdiri dari parameter Carbon, Hydrogen, Nitrogen , Sulfur, dan Oksigen. Contoh lainnya adalah Ash analysis, Petrographic analysis, trace element, dan lain-lain. Sedangkan yang bersifat individual misalnya Calorific Value, Chlorine in coal, HGI, Total moisture, dan lain-lain.

Masing-masing parameter tersebut dilaporkan menurut basis yang sudah disepakati oleh dunia internasional. Fungsinya adalah agar diperoleh suatu bahasa dan persepsi yang sama dalam menganalisis dan mengevaluasi data-data parameter batubara . Dengan adanya acuan ini maka tidak akan terjadi persepsi yang keliru dalam menganalisa dan membaca setiap laporan yang memuat tentang parameter kualitas batubara.

Secara kuantitative kandungan batubara dibagi menjadi 4 bagian yaitu yang disebut sebagai Proximate. Jadi batubara terdiri dari 1. Moisture, 2. Ash (mineral matter) 3. Volatile Matter, 4. Fixed carbon. Sehingga dalam penentuan proximate ini jumlah persentasinya harus 100 %.

Basis yang dipakai dari keempat parameter diatas tergantung dari tempat atau kondisi dari batubara tersebut seperti . Kondisi 1; Apabila yang dimaksud batubara diatas berada masih dalam seamnya atau masih berada di dalam tanah, maka moisture yang dimaksud adalah EQM (Equilibrium moisture) atau MHC (Moisture holding capacity), atau Bed moisture, atau Inherent moisture (versi ASTM), atau In-situ moisture dan lain lain yang mencerminkan moisture pada batubara in-situ. Sedangkan parameters yang lain (ash, VM, dan FC) basisnya dalam moist basis atau in-situ basis. Kondisi 2; Apabila batubara yang dimaksud adalah batubara yang ada di stockpile, maka moisturenya adalah TM (Total moisture) dan parameter yang lain dalam as received basis. Kondisi 3; Apabila batubara yang dimaksud adalah batubara yang berada di lab yang sudah di air drying maka moisture diatas adalah Moisture in the analysis sample (versi ASTM), atau Inherent moisture (versi Australian Standard), atau Air dried moisture (versi ISO standard).

Jadi secara kuantitative batubara hanya dibagi menjadi 4 golongan besar seperti digambarkan di atas. Sedangkan dari empat golongan diatas dibagi lagi menjadi beberapa parameter lain baik secara kualitative maupun secara kuantitative. Sebagai contoh dari parameter ASH atau ABU, parameter yang ditentukan dari ash batubara ini diantaranya ;
1. Kuantitative: Ash analysis (ash constituent), Trace element , dan lain-lain.
2. Kualitative: Ash fusion, Ash resistivity, dan lain lain. Sedangkan dari gabungan VM dan FC, merupakan penganalisaan parameter yang paling banyak seperti Ultimate, Maceral, Calorific value, dan sebagainya.

Pada prinsipnya semua parameter yang ditentukan dari batubara ketelitiannya terletak pada sampling, preparasi, dan analisa laboratorium itu sendiri. Secara filosofi tingkat ketelitian dari ketiga proses tersebut adalah sebagai berikut.: Sampling = 80 %, Preparasi dan analisa = 20 %. Didalam preparasi dan analisa lab. itu sendiri terbagi menjadi Preparasi = 80 % dan analisa lab = 20 %. Hati-hati dalam menerjemahkan filosofi tersebut, karena banyak yang menafsirkan kurang tepat mengenai filosofi tersebut. Pembagian persentasi tersebut hanya didasarkan atas tingkat kesukaran dalam mengulang prosesnya atau kesukaran dalam menentukan benar atau salahnya proses tersebut, jadi bukan ketelitian pengerjaanya. Kalau dilihat dari ketelitiannya tentu saja ketiga proses tersebut harus mendekati akurat 100 %. Yang dimaksud tingkat kesukaran dalam mengulang proses adalah gambarannya sebagai berikut;

SAMPLING

Sampling secara umum dapat didefinisikan sebagai; “ Suatu proses pengambilan sebagian kecil contoh dari suatu material sehingga karakteristik contoh material tersebut mewakili keseluruhan material”.

Didalam industri pertambangan batubara, sampling merupakan hal yang sangat penting, karena merupakan proses yang sangat vital dalam menentukan karakteristik batubara tersebut. Dalam tahap explorasi, karakteristik batubara merupakan salah satu penentu dalam study kelayakan apakah batubara tersebut cukup ekonomis untuk ditambang atau tidak. Begitu pun dalam tahap produksi dan pengapalan atau penjualan batubara tersebut karakteristik dijadikan acuan dalam menentukan harga batubara.

Secara garis besar sampling dibagai menjadi 4 golongan dilihat dari tempat pengambilan dimana batubara berada dan tujuannya yaitu; Explorasi sampling, Pit sampling, Production sampling, dan loading sampling (barging dan transhipment)
Explorasi sampling dilakukan pada tahap awal pendeteksian kualitas batubara baik dengan cara channel sampling pada outcrop atau lebih detail lagi dengan cara pemboran atau drilling. Tujuan dari sampling di tahap ini adalah untuk menentukan karakteristik batubara secara global yang merupakan pendeteksian awal batubara yang akan di exploitasi.

Pit sampling dilakukan setelah explorasi bahkan bisa hampir bersamaan dengan progress tambang didalam satu pit atau block penambangan dengan tujuan lebih mendetailkan data yang sudah ada pada tahap explorasi. Pit sampling ini dilakukan oleh pit control untuk mengetahui kualitas batubara yang segera akan ditambang, jadi lebih ditujukan untuk mengkontrol kualitas batubara yang akan ditambang dalam jangka waktu short term. Pit sampling ini juga dapat dilakukan dengan pemboran juga dengan channel pada face penambangan kalau diperlukan untuk mengecek kualitas batubara yang dalam progress ditambang.
Production sampling; dilakukan setelah batubara di proses di prosesing plant dimana proses ini dapat merupakan penggilingan (crushing) pencucian (washing), penyetokan dan lain-lain. Tujuannya adalah mengetahui secara pasti kualitas batubara yang akan di jual atau dikirim ke pembeli supaya kualitasnya sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan dan telah disepakati oleh kedua belah pihak. Dengan diketahuinya kualitas batubara di stockpile atau di penyimpanan sementara kita dapat menentukan batubara yang mana yang cocok untuk dikirim ke Buyer tertentu dengan spesifikasi batubara tertentu pula. Baik dengan cara mencampur (blending) batubara-batubara yang ada di stockpile atau pun dengan single source dengan memilih kualitas yang sesuai.
Loading Sampling; Dilakukan pada saat batubara dimuat dan dikirim ke pembeli baik menggunakan barge maupun menggunakan kapal. Biasanya dilakukan oleh independent company karena kualitas yang ditentukan harus diakui dan dipercaya oleh penjual (Shipper) dan pembeli (Buyer). Tujuannya adalah menentukan secara pasti kualitas batubara yang dijual yang nantinya akan menentukan harga batubara itu sendiri karena ada beberapa parameter yang sifatnya fleksibel sehingga harganya pun fleksibel tergantung kualitas actual pada saat batubara dikapalkan.
Sampling, preparasi dan analisa sample batubara dengan berbagai tujuan seperti telah dijelaskan di atas,dilakukan dengan menggunakan standard – standard yang telah ada. Dimana pemilihannya tergantung keperluannya, biasanya tergantung permintaan pembeli atau calon pembeli batubara. Standard yang sering digunakan untuk keperluan tersebut diantaranya ; ASTM (American Society for Testing and Materials), AS (Australian Standard), Internasional Standard, British Standard, dan banyak lagi yang lainnya yang berlaku baik di kawasan regional maupun internasional.

Berdasarkan metoda pelaksanaannya sampling dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu;
1. Manual sampling
2. Mechanikal sampling

Sedangkan berdasarkan teknis pengambilannya Sampling dapat dibagi menjadi beberapa golongan sebagai berikut;

Core Sampling
- Exploration sampling
- Deep drilling
- Shalow drilling
- Pit sample
- Pit drilling

Channel sampling
- Explorasi sampling
- Outcrop sampling
- Pit sampling
- Seam face sampling

Bulk sampling
- Stasionary sampling
- Stockpile sampling
- Wagon sampling
- Coal truck sampling, Dll.

Moving sampling
- Cross belt sampling
- Stop belt sampling
- Falling stream sampling
- Moving bucket sampling, DLL.

Sampling batubara merupakan sampling yang tersulit dari semua sampling solid material. Hal ini dikarenakan batubara merupakan heterogen solid material. Selain itu parameter yang ditentukan dari batubara memeliki sifat-sifat penyebaran yang bervariasi. Oleh karena itu dalam melakukan sampling batubara harus betul-betul mengikuti kaidah-kaidah atau standard yang digunakan.

Ada 3 faktor yang menentukan bahwa suatu sample dapat dikatakan representative atau tidak, yaitu :
1. Teknik pengambilan sample dan alat yang digunakan
2. Massa /jumlah sample yang diambil
3. Periode atau interval pengambilan.

Untuk memperoleh sample yang representative, maka ketiga faktor diatas harus dilakukan dengan baik menurut standard yang digunakan.

Teknik Pengambilan dan Alat yang digunakan

a. Teknik pengambilan sample
Teknik pengambilan sample harus ditentukan dan disesuaikan dengan kondisi material yang akan diambil dan alat yang digunakan. Teknik pengambilan sample yang salah, akan menyebabkan hasil dari sample tersebut bias. Teknik sampling harus betul betul diperhatikan terutama pada sampling secara manual.
Sebagai contoh, dalam pengambilan sample dari falling stream, shovel atau ladle yang digunakan harus masuk ke seluruh stream batubara. Apabila hanya sebagian stream yang diambil maka sample yang diperoleh akan bias.
Selain itu yang perlu diperhatikan adalah muatan sample dalam ladle. Ladle harus terisi sample secukupnya dan tidak boleh berlebihan (overfill). Pengambilan sample yang overfill juga akan menyebabkan bias, karena partikel yang besar-besar akan jatuh, dan sebagian besar sample yang terambil adalah fine coal.
Jadi teknik pengambilan sample harus disesuaikan dengan situasi, kondisi, batubara yang akan diambil samplenya. Seorang sampler yang profesional harus menguasai teknik sampling yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi batubara yang akan diambil samplenya.

b. Alat yang digunakan
Selain teknik pengambilan sample, yang tak kalah pentingnya yang harus diperhatikan adalah alat yang digunakan untuk mengambil sample tersebut. Alat yang digunakan untuk melakukan sampling memiliki ukuran dan bentuk yang ditentukan oleh standard. Penggunaan alat yang tidak sesuai dengan standard, akan mengakibatkan bias pada sample yang diperoleh dan akan menyebabkan kesalahan pada hasil analisanya.
Ada 5 jenis alat untuk pengambilan sample secara manual yang biasanya digunakan yaitu :
1.Laddle : Digunakan untuk pengambilan sample dari falling stream
2.Manual Cutter : Digunakan untuk pengambilan sample dari falling stream
3.Scoop : Digunakan untuk pengambilan sample seperti dari bucket WA dsb.
4.Shovel : Digunakan untuk pengambilan sample di stockpile, DT dan lain-lain.
5.Sampling Frame: Digunakan untuk pengambilan sample diatas belt conveyor

Massa / jumlah sample yang diambil

Massa atau jumlah sample yang diambil tergantung dari ukuran butir atau particle size dari batubara tersebut. Ketentuan ini juga tergantung pada standard mana yang diikuti.
Satuan pengambilan sample terkecil disebut Increment, dan increment-increment digabungkan membentuk satu gross sample. Berat minimum sample untuk setiap increment tergantung dari ukuran butir batubara yang disampling, dan mengikuti persamaan sebagai berikut :

M = 0.06 D
Dimana :
M = Massa / berat per increment (kg)
D = Diameter / particle top size batubara (mm)

Contoh 1 : berat minimum per increment pada manual sampling untuk ukuran batubara top size 50 mm, adalah :
M = 0.06 x 50

= 3.00 kg

Sedangkan untuk berat per increment pada mechanical sampling berlaku persamaan sebagai berikut :

M = C x A / 3.6 V

Dimana :
M = berat per increment (kg)
C = Capacity belt Conveyor(tph)
A = Aperture cutter (m) (min. 3 x top size)
V = Kecepatan belt conveyor (m/det)

Contoh 2 : Berat sample per increment untuk batubara dengan top size 50 mm, dengan loading rate 1000 tph, dan kecepatan belt 4.5 m/s adalah :

M = (1000 x 0.15) / (3.6 x 4.5)

= 9.26 kg

Jumlah increment sample yang harus diambil dari setiap lot batubara tergantung dari tonnase lot batubara tersebut.
Untuk menentukan jumlah sample increment, ASTM memberikan 2 standard perhitungan sebagai berikut :
1.15 Increment untuk satu sampling unit (lot) dengan jumlah lot 1000 ton bagi washed coal
2.35 Increment untuk satu sampling unit (lot) dengan jumlah lot 1000 ton bagi unwashed coal / unknown coal.

Semakin banyak sample increment yang diambil semakin representative sample tersebut, namun demikian semakin banyak sample yang dihandle semakin tinggi juga kemungkinan kesalahan dalam penanganan sample tersebut.

c. Periode / Interval pengambilan

Faktor ini sangat penting sekali, karena tanpa memperhatikan faktor ini maka sample yang terambil tidak akan representative walaupun faktor 1 dan 2 telah dipenuhi.
Sebagai contoh, kita mengambil sample loading dengan teknik yang benar dan jumlah sample sesuai dengan standard. Tapi pengambilan tersebut dilakukan sekaligus diawal loading, dan sudah selesai pada saat loading masih terus berjalan sampai beberapa jam lagi kedepan. Hal ini akan menyebabkan sample yang terambil tidak mewakili seluruh lot atau batubara yang diloading, karena mungkin saja setelah selesai pengambilan sample tadi, tiba-tiba kualitas batubara berubah total dari yang awal-awal diloading.
Oleh karena itu pengambilan increment sample harus merata dan diambil selama “throughout” poroses pemindahan batubara tersebut. Dalam istilah sampling cara seperti ini disebut “ Systematic Stratified Sampling”

PREPARASI SAMPLE

Preparasi sample adalah pengurangan massa dan ukuran dari gross sample sampai pada massa dan ukuran yang cocok untuk analisa di Laboratorium.
Tahap-tahap preparasi sample adalah sebagai berikut :
1.Pengeringan udara/Air Drying
Pengeringan udara pada gross sample dilakukan jika sample tersebut terlalu basah untuk diproses tanpa menghilangnya moisture atau yang menyebabkan timbulnya kesulitan pada crusher atau mill. Pengeringan udara dilakukan pada suhu ambient sampai suhu maksimum yang dapat diterima yaitu 400C. Waktu yang diperlukan untuk pengeringan ini bervariasi tergantung dari typical batubara yang akan dipreparasi, hanya prinsipnya batubara dijaga agar tidak mengalami oksidasi saat pengeringan.

2.Pengecilan ukuran butir
Pengecilan ukuran butir adalah proses pengurangan ukuran atas sample tanpa menyebabkan perubahan apapun pada massa sample
Contoh alat mekanis untuk melakukan pengecilan ukuran butir adalah :
- Jaw Crusher
- Rolls Crusher
- Swing Hammer Mills
Jaw Crusher atau Roll Crusher biasa digunakan untuk mengurangi ukuran butir dari 50 mm sampai 11,2 mm; 4,75 mm atau 2,36 mm.
Roll Crusher lebih direkomendasikan untuk jumlah/massa sample yang besar.
Swing Hammer Mill digunakan untuk menggerus sample sampai ukuran 0,2 mm yang akan digunakan untuk sample yang akan dianalisa di Laboratorium.

3.Mixing atau Pencampuran
Mixing / pencampuran adalah proses pengadukan sample agar diperoleh sample yang homogen.
Pencampuran dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
a.Metode manual ; menggunakan riffle atau dengan membentuk dan membentuk kembali timbunan berbentuk kerucut
b.Metode Mekanis : menggunakan Alat Rotary Sample Divider (RSD)

4.Pembagian atau Dividing
Proses untuk mendapatkan sample yang representatif dari gross sample tanpa memperkecil ukuran butir. Sebagai aturan umum, pengurangan sample ini harus dilakukan dengan melakukan pembagian sample.
Pembagian dilakukan dengan metode manual (riffling atau metode increment manual) dan metode mekanis (Rotary Sample Divider)

COAL ANALYSIS

Jenis analisa atau parameter untuk menentukan kualitas suatu batubara banyak sekali baik analisa fisik atau disebut physical property, chemical property, pilut scale test, dan lain-lain. Contoh yang masuk kedalam physical property misalnya ; HGI, Sieve analysis, Drop shatter, bulk density dan lain-lain. Sedangkan yang termasuk kedalam chemical property adalah misalnya Proximate, Ultimate, Ash analysis, dan lain-lain. Dan beberapa contoh pilot scale test misalnya ; Test Sponcomb, Test burn, Wet tumble test, dan lain-lain. Begitu banyak test atau analysis yang dilakukan terhadap batubara dengan tujuannya masing-masing. Setiap test atau analyisis sudah pasti ada tujuan atau ada yang ingin diketahui. Ditinjau dari tujuannya, coal analysis dapat dibagi ke dalam dua tujuan utama yaitu tujuan Study, dan tujuan komersial.

Parameter-parameter tersebut antara lain adalah :
• Moisture
• Ash
• Volatile matter
• Fixed carbon
• Sulfur
• Calorific Value
• Ash Analysis
• Ash Fusion Temperature
• Hardgrove Grindability Index

Moisture
Moisture di dalam batubara dapat dibagi menjadai dua bagian yaitu inherent moisture dan extraneous moisture. Dua istilah tersebut di atas merupakan istilah pengertian bukan istilah parameter. Inherent moisture adalah moisture yang terkandung dalam batubara dan tidak dapat menguap atau hilang dengan pengeringan udara atau air drying pada ambien temperature walaupun batubara tersebut telah dimilling ke ukuran 200 mikron. Inherent moisture ini hampir menyatu dengan struktur molekul batubara karena berada pada kapiler yang sangat kecil dalam partikel batubara. Nilai Inherent moisture ini tidak fluktuatif dengan berubah-ubahnya humiditas ruangan. Dan moisture ini baru bisa dhilangkan dari batubara pada pemanasan lebih dari 100 derajat Celsius. Extaraneous moisture adalah moisture yang berasal dari luar dan menempel atau teradsorpsi di permukaan batubara atau masuk dan tergabung dalam retakan-retakan atau lubang-lubang kecil batubara. Sumber extraneous moisture ini misalnya ; air dari genangan, air hujan, dan lain-lain. Moisture ini dapat dihilangkan atau diuapkan dengan cara air drying atau pemanasan di oven pada ambien temperature. Ada yang mengistilahkan untuk moisture ini adalah Surface moisture atau Free moisture.

Parameter – parameter yang termasuk ke dalam penentuan kadar moisture adalah ;
• EQM / MHC / Inherent moisture / Bed moisture / In situ Moisture
• Total Moisture / as received moisture / as sampled moisture /as despatched moisture
• Air dried moisture / inherent moisture / moisture in the analysis sample
• Transportable moisture limit / flow moisture

Equilibrium moisture
Equilibrium moisture adalah parameter penentuan moisture sebagai pendekatan untuk menentukan inherent moisture atau insitu moisture dalam batubara. EQM ini biasanya ditentukan pada saat explorasi batubara yang kegunaanya adalah untuk memperkirakan nilai TM pada saat batubara tersebut ditambang. Nilai EQM ini relative tidak fluktuasi nilainya pada satu seam yang sama. Selain untuk memperkirakan TM, juga EQM berguna dalam menentukan golongan atau Rank dari suatu batubara terutama untuk Low rank coal yang penentuan Ranknya menggunakan nilai calorific value pada basis mmmf (moist, mineral matter free basis), dimana basis ini memerlukan data insitu moisture atau EQM. EQM ini adalah istilah penentuan dalam standard ASTM, sedangkan dalam ISO standard istilah parameternya adalah MHC ( Moisture Holding Capacity ). Belakangan ini penentuan untuk inherent moisture ini bisa dilakukan pada sample channel yang not visible surface moisture dengan prosedur sampling tertentu.

Total Moisture
Total moisture biasanya ditentukan pada batubara mulai dari explorasi sampai transshipment. Nilainya sangat penting sekali, karena dalam penjualannya nilai TM sangat diperhatikan dan menentukan harga dari batubara tersebut selain berpengaruh pada nilai parameter-parameter lain dalam basis as received. Dalam explorasi, TM ditentukan untuk menaksir atau memperkirakan nilai TM batubara in-situ sekaligus untuk menentukan nilai surface moisturenya dari selisih antara TM dan EQM. Karena TM adalah jumlah dari EQM dengan Surface moisture. ( TM = EQM + SM ). Selain itu, nilai TM yang didapat dari sample core pada saat explorasi banyak digunakan oleh geologist-geologist untuk menampilkan data dalam basis as received pada saat batubara tersebut belum ditambang. Yang paling menentukan dalam penentuan TM ini adalah samplingnya, yakni sesaat setelah sample batubara disampling sesegera mungkin sample tersebut dimasukan kedalam kontainer yang ditutup sangat rapat sehingga tidak ada moisture yang masuk atau keluar dari sample tersebut. Apabila ini terlaksana dengan baik maka nilai TM yang diperoleh dapat dianggap mewakili nilai moisture batubara yang diambil samplenya tersebut pada saat dan keadaan batubara tersebut disampling. Prinsip ini biasanya sulit terlaksana pada sample core dari sample Pit atau bor dalam, karena dari sample core tersebut masih ada beberapa data yang harus dicatat dan diamati, sehingga sample tersebut tidak segera dapat dimasukan ke dalam kontainer yang kedap udara sesaat setelah disampling. Selain itu pada saat pemboran biasanya menggunakan air selama coring dilakukan, sehingga kontaminasi batubara tersebut oleh air yang bukan berasal dari batubara mungkin sekali terjadi. Oleh karena itu nilai TM tersebut menjadi tidak begitu reliable untuk menunjukan nilai TM batubara in-situ. Nilai TM yang diperoleh juga biasanya sangat fluktuatif nilainya.

Pada coal in bulk, nilai TM ini dipengaruhi oleh luas permukaan batubara (size distribusi ), juga oleh cuaca, sehingga nilai TM pada coal in bulk relatif fluktuatif seiring dengan keadaan cuaca atau musim dan size distribusi dari batubara tersebut terutama setelah di crushing.

Air dried moisture
Sesuai dengan namanya, air dried moisture adalah nilai moisture batubara pada saat setelah batubara tersebut diair drying. Nilai moisture ini sangat penting karena pada dasarnya semua parameter ditentukan pada sample setelah air drying sehingga basisnya adalah air dried basis. Nilai parameter dalam basis ini merupakan actual hasil analisa dari Lab. Sedangkan basis-basis lainya dalam coal analysis merupakan kalkulasi saja dari nilai-nilai air dried basis ini. Jadi jelaslah bahwa tanpa nilai air dried moisture, parameter-parameter yang lain tidak dapat diubah ke dalam basis lainnya. Selain itu nilai ADM ini berpengaruh pada nilai parameter lainnya pada basis airdried, seperti CV, VM, Sulfur dan lain-lain. Sehingga nilai ADM menjadi lebih penting lagi apabila spesifikasi dinyatakan dalam basis air dried.

Transportable moisture limit

Batubara in bulk yang diangkut dengan menggunakan palka tertutup seperti kapal-kapal besar, dalam kondisi tertentu yang diakibatkan oleh angin dan ombak, memungkinkan terjadinya segregasi moisture dan finer coal dari bulk dan membentuk semacam “liquefaction” dan pada kondisi tertentu dapat membahayakan kapal tersebut terutama pada stability kapal selama dalam pelayarannya. Oleh karena itu IMO ( International Marine Organisation) mensyaratkan untuk setiap kapal yang mengangkut batubara terutama low rank coal, harus meminta statement dari Shipper mengenai nilai transportable moisture limit dari batubara yang akan dimuat. Ada satu metoda yang dikembangkan di National Coal Board (UK) untuk menentukan nilai TML ini yaitu dengan cara ; Sebanyak 10 kg batubara dimasukan ke dalam suatu silinder dimana di bawah silinder tersebut diletakan dua bola tenis meja. Kemudian silinder tersebut diletakan di atas “Vibrating table”. Penentuan ini dilakukan pada nilai moisture batubara yang bervariasi. Flow Moisture ditentukan sebagai nilai moisture pada saat bola tenis meja tersebut masuk naik ke atas batubara dalam silinder tersebut. Sedangkan TML adalah 90 % dari nilai Flow moisture tersebut.

Ash Content (AC)
Sebenarnya batubara tidak mengandung ash melainkan mengandung mineral matter. Ash adalah istilah parameter dimana setelah batubara dibakar dengan sempurna, material yang tersisa dan tidak terbakar adalah ash atau abu sebagai sisa pembakaran. Jadi ash atau abu merupakan istilah umum sebagai sisa pembakaran. Pada material yang lain mungkin ash ini dapat mencerminkan langsung mineral matter yang terkandung dalam material yang dibakar tersebut. Akan tetapi di dalam batubara hal tersebut tidak selamanya terjadi karena terjadinya reaksi-reaksi kimia selama pembakaran atau insinerasi batubara tersebut, sehingga nilai ash yang didapat relative akan lebih kecil dibanding dengan nilai mineral matter yang sebenarnya. Ada pula yang menggolongkan mineral dalam batubara ke dalam tiga kategori yaitu ;

• Mineral matter
• Inherent ash
• Extraneous ash

Mineral matter adalah unsur-unsur yang terikat secara organik dalam rantai carbon sebagai kation pengganti hidrogen. Unsur ini biasanya ada dalam batubara pada saat pembentukan batubara yang berasal dari tumbuhan atau pohon pembentuk batubara tersebut. Unsur yang biasanya ditemukan sebagai mineral matter ini adalah Kalsium, Sodium, dan juga ditemukan besi dan alumina pada low rank coal. Inherent ash adalah superfine discrete mineral yang masih dapat tertinggal dalam partikel batubara setelah dipulverize. Dan yang ketiga adalah extraneous ash, yang termasuk kedalam kategori ini adalah tanah atau pasir yang terbawa pada saat penambangan batubara dan mineral yang keluar dari partikel batubara pada saat dipulverize. Ketiga jenis ash tersebut sangat tergantung pada lingkungan pada saat pembentukan batubara serta bahan pembentuk batubara sehingga memiliki sifat-sifat thermal masing-masing, akibatnya juga setiap type ash tersebut memiliki kontribusi yang berbeda terhadap slagging dan fouling. Penentuan di laboratorium yaitu dengan membakar batubara pada temperature 750 atau 800 derajat celsius sampai dianggap pembakaran telah sempurna. Dalam prosedure standard temperature dan waktu pembakaran ditentukan yang nilainya tergantung kepada standard masing-masing. Penentuan secara prosedure di atas untuk batubara tertentu yang mengandung banyak pyrite dan carbonat, menjadi tidak begitu teliti karena selama pembakaran terjadi beberapa reaksi akan terjadi. Reaksi reaksi yang mungkin terjadi selama pembakaran adalah ;

• Decomposisi Pyrite :
4 FeS2 + 15 O2 ------> 2 Fe2 O3 + 8 SO3

• Dekomposisi Carbonat
CaCO3 + O2 -----> CaO + CO2

• Fixation of sulfur
CaO + SO3 -------> CaSO4
Na2O + SO3 -------> Na2SO4

Dalam basis dry mineral matter free basis untuk penentuan rank batubara di ASTM, Ash yang digunakan adalah hasil kalkulasi dimana ash dinyatakan sebagai ash bebas sulfat.

Volatile Matter
Volatile matter adalah zat terbang yang terkandung dalam batubara. Zat yang terkandung dalam volatile matter ini biasanya gas hidrokarbon terutama gas methane. Volaitile matter ini berasal dari pemecahan struktur molekule batubara pada rantai alifatik pada temperature tertentu. Di laboratorium sendiri penentuannya dengan cara memanaskan sejumlah batubara pada temperature 900 derajat Celsius dengan tanpa udara. Volatile matter keluar seperti jelaga karena tidak ada oksigen yang membakarnya. Volatile matter merupakan salah satu indikasi dari rank batubara. Dalam klasifikasi batubara ASTM, Volatile matter digunakan sebagai parameter penentu rank untuk batubara high rank coal. Volatile matter juga memiliki korelasi yang jelas dengan salah satu maceral yaitu Vitrinite. Apabila volatile matter dalam basis DMMF di plot dengan reflectance dari vitrinite, maka akan diperoleh suatu garis yang relative lurus yang korelatif dengan rank batubara. Selain itu pada saat penentuan di laboratorium, juga dapat digunakan sebagai prediksi awal apakah batubara tersebut memiliki sifat agglomerasi atau tidak.
Sifat dalam coal combustion, volatile matter memegang peranan penting karena ikut menentukan sifat-sifat pembakaran seperti efisiensi pembakaran karbon atau carbon los on ignition. Volatile matter yang tinggi menyebabkan batubara mudah sekali terbakar pada saat injection ke dalam suatu boiler. Low rank coal biasanya mengandung Voloatile matter yang tinggi sehingga memiliki efisiensi yang sangat tinggi pada saat pembakaran di power station.
Volatile matter juga digunakan sebagai parameter dalam memprediksi keamanan batubara pada Silo Bin, Miller atau pada tambang-tambang bawah tanah. Tingginya nilai volatile matter semakin besar pula resiko dalam penyimpananya terutama dari bahaya ledakan.

Fixed Carbon
Fixed carbon adalah adalah parameter yang tidak ditentukan secara analisis melainkan merupakan selisih 100 % dengan jumlah kadar moisture, ash, dan volatile matter. Fixed carbon ini tidak sama dengan total carbon pada Ultimate. Perbedaan yang cukup jelas adalah bahwa Fixed carbon merupakan kadar karbon yang pada temperature penetapan volatile matter tidak menguap. Sedangkan carbon yang menguap pada temperature tersebut termasuk kedalam volatile matter. Sedangkan total carbon yang ditentukan pada Ultimate analysis merupakan semua carbon dalam batubara kecuali carbon yang berasal dari karbonat. Jadi baik hidrokarbon yang termasuk ke dalam Volatile matter atau fixed carbon termasuk di dalamnya. Penggunaan nilai parameter ini sama dengan volatile matter yaitu sebagai parameter penentu dalam klasifikasi batubara dalam ASTM standard. Serta untuk keperluan tertentu fixed carbon bersama volatile matter dibuat sebagai suatu ratio yang dinamakan fuel ratio (FC/VM).

Sulfur (S)
Sulfur didalam batubara sama seperti halnya material yang lain terdiri dari dua jenis yaitu sulfur organik dan sulfur anorganik. Sulfur organik biasanya ada dalam batubara seiring dengan pembentukan batubara dan berasal dari tumbuhan pembentuk batubara tersebut. Dan tidak menutup kemungkinan juga berasal dari luar tumbuhan yang dikarenakan suatu reaksi kimia yang terjadi pada saat peatifikasi dan coalifikasi pada saat perubahan diagenetik dan perubahan kimia. Sedangkan anorganik sulfur berasal dari lingkungan dimana batubara tersebut terbentuk.atau dari mineral yang berada disekeliling batubara atau bahkan yang berada dalam seam batubara yang membentuk parting, spliting, band dan lain-lain. Sulfur anorganik ini biasanya dibagi lagi menjadi dua jenis yaitu Pyritic sulfur dan sulfat sulfur. Dalam analysis di laboratorium sulfur-sulfur ini ditentukan dengan parameter yang disebut form of sulfur. Dimana laporannya terdiri dari pyritic sulfur, sulfate sulfur dan organik sulfur. Yang ditentukan di laboratorium dengan test adalah hanya piritic sulfur dan sulfate sulfur sedangkan organik sulfur merupakan hasil kalkulasi selisih antara Total sulfur dan jumlah dari piritic dan sulfate sulfur. Form of sulfur biasa digunakan untuk memprediksi secara awal apakah sulfur dari batubara tersebut dapat dikurangi dengan cara separasi media atau washibility density. Organik sulfur secara teeoritis tidak dapat dipisahkan dari batubara dengan metoda separasi yang menggunakan dens medium plan atau washing karena sulfur tersebut terikat secara organik dalam molekul batubara. Sedangkan anorganik sulfur secara teoritis dapat dihilangkan atau dikurangi dengan cara separasi media karena termasuk ke dalam mineral matter yang memiliki density lebih tinggi dibanding batubara. Selain itu pyrtic sulfur juga digunakan sebagai bahan acuan dalam memprediksi kecenderungan batubara tersebut untuk terbakar secara spontan pada waktu penyimpanannya di stockpile. Karena pyritic sulfur dapat mengkatalisasi terjadinya self heating pada batubara yaitu dengan reaksi oksidasi yang menghasilkan panas. Selain itu dari reaksi tersebut dapat menyebabkan disintegrasi partikel batubara sehingga menambah luas permukaan batubara yang juga dapat menambah kecenderungan batubara tersebut untuk teroksidasi yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya pembakaran spontan. Hidrogen disulfida atau FeS2 di dalam batubara terdiri dari dua type yaitu cubic yellow pyrite dan rombik marcasite. Dan marcasite inilah yang disinyalir lebih reaktif terhadap oksigen dibanding pyrite.
Dalam utilisasi di industri, sulfur yang tinggi sangat tidak diharapkan karena dapat menimbulkan emisi SO2 yang konsentrasinya tidak boleh tinggi karena dapat menyebabkan hujan asam. Batasan konsentrasi SO2 yang diijinkan tergantung dari negara dimana industri tersebut berada, karena peraturan masing-masing negara berbeda. Selain itu SO2 juga termasuk corrosive constituent bersama chlorine yang dapat merusak metal dalam boiler.
Analisa reguler yang ditentukan baik untuk explorasi, produksi, dan shipment adalah total sulfur yang biasanya ditentukan dengan metoda high temperature method

Calorific Value (CV)
Nilai Kalori atau Calorific Value adalah jumlah unit panas yang dikeluarkan per unit bahan bakar yang dibakar dengan oxygen, nitrogen dan oksida nitrogen, carbondioksida, sulfurdioksida, uap air dan abu padat
Nilai kalori biasanya dilaporkan sebagai :
a. Gross Calorific Value, adalah jumlah unit panas yang dikeluarkan per unit bahan-bahan yang dibakar dengan oksigen di bawah kondisi standar. Disebut juga kalori gross pada volume konstan
b. Net Calorific Value, adalah konversi secara matematis dari Gross Calorific Value dengan menerapkan faktor koreksi yang didasarkan pada kandungan hydrogen, oksigen dan moisture. Biasa disebut sebagai panas pembakaran pada tekanan konstan dimana air berujud gas.

Penentuan nilai kalori batubara yang digunakan misalnya dengan alat Calorimeter dengan sistem Isoperibol. Alat ini menggunakan siklus Isotermik, dimana secara komputerize, panas yang dihasilkan dari pembakaran batubara dalam calorimeter tersebut dikonversikan ke dalam satuan Megajoule per kilogram (MJ/kg) atau Calori per gram
(Cal/g). Jadi secara otomatis nilai kalori dari batubara yang ditentukan diprint out oleh alat kalorimeter tersebut.

Ash Analysis (ASH COMPOSITION)
Ash pada umumnya terdiri dari ikatan dari logam Silikon, Aluminium, Besi dan Kalsium serta kondungan lain yang lebih kecil seperti Titanium, mangan, magnesium, sodium dan potassium dimana semuanya terjadi dalam bentuk silicates, oksida, sulphida, sulfat dan phospat. Element lain seperti arsen, copper, timbal, nikel, zinc dan uranium dapat dilaporkan dalam jumlah yang sangat kecil. Pengetahuan mengenai komposisi sebenarnya dari ash sangat penting untuk memprediksi karakteristik dan behaviour batubara jika digunakan dalam berbagai aplikasi di dunia industri.

Ash Fusion Temperature
Ash Fusion Temperature menggambarkan karakteristik pelunakan dan pelelehan ash, dan diukur menurut standar prosedur tertentu dengan cara pemanasan secara gradual terhadap sample yang sudah disiapkan dalam bentuk cone untuk selanjutnya diamati profil perubahannya.
Temperatur dicatat pada sifat-sifat yang menunjukkan :
- initial Deformation
- Spherical
- Hemispherical
- Flow
Ash Fusion Temperature biasa diukur pada dua kondisi yaitu kondisi Reduksi dan Oksidasi. Pengukuran dalam kondisi Oksidasi selalu lebih tinggi dibandingkan kondisi Reduksi disebabkan keberadaan beberapa komponen dalam ash seperti besi oksida yang memiliki perbedaan fluxing effects pada suasana oksidasi dan reduksi.

Hardgrove Grindability Index (HGI)
Test ini adalah untuk mengukur kemudahan relatif saat batubara dihancurkan ke dalam ukuran yang lebih kecil. Semakin tinggi nilai HGI maka semakin lunak batubara yang berarti semakin mudah batubara tersebut untuk dihancurkan.
Index ini sangat membantu dalam memperkirakan kapasitas mill yang digunakan untuk menggiling batubara sampai ukuran yang diperlukan untuk umpan ke furnace.

BASIS

Basis adalah dasar yang dipakai untuk menyatakan nilai dari suatu parameter dan menginterpretasikan nilai tersebut pada kondisi tertentu batubara. Interpretasi dari basis tersebut sesuai dengan istilah basis tersebut, misalkan seperti basis basis di bawah ini ;
• As received/as sampled basis (AR) = nilai parameter atau kualitas batubara pada saat batubara tersebut diterima / disampling.
• Air dried basis (ADB) = nilai kualitas pada kondisi batubara setelah di air dried.
• Dry basis (DB) = nilai kualitas pada kondisi batubara kering atau tidak memiliki nilai moisture (moisture free)
• Dry ash free basis (DAF) = nilai kualitas batubara pada kondisi batubara tersebut kering dan bebas dari ash.
• Dry mineral matter free basis (DMMF) = menginterpretasikan nilai kualitas pada kondisi batubara tidak mengandung air dan mineral matter.
• Moist, mineral matter free basis (mmmf) menginterpretasikan nilai kualitas batubara pada kondisi batubara tersebut masih didalam tanah (in-situ coal) dan tidak mengandung mineral matter,dan lain-lain.

Basis-basis di atas merupakan basis-basis yang umum atau biasanya dipakai dalam menyatakan nilai dari suatu parameter kualitas dari suatu batubara. Selain basis-basis tersebut di atas masih ada beberapa basis lainnya yang hanya untuk keperluan tertentu saja digunakan seperti misalnya ; Sulfat free, SO3 free, Ash free, dan lain-lain.

met BeLajar yah,,,moga niy iLmu bermanfaat...ni iLmu diperoleh dari mata KuLiah Batubara I......... ^^,